PT Solid Gold Berjangka

PT Solid Gold Berjangka | Pusat

05
Se
Bagaimana Uni Soviet Membantu Indonesia Merebut Irian Barat?
05.09.2017 14:08

PT Solid Gold Berjangka - Tak spt perjuangan pembebasan negara-negara jajahan Inggris yg akhirnya diberi jalan untuk merdeka & membentuk negara baru, Indonesia benar-benar harus melawan Belanda dlm perang empat tahun untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya.

Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua.

Pemerintah Belanda beralasan bahwa pulau & suku-suku yg mendiami Papua memiliki kebudayaan mereka sendiri yg berbeda dgn wilayah Indonesia lainnya.

Presiden pertama RI Sukarno, yg memimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, membuat misi pribadi untuk membebaskan wilayah yg saat itu disebut sbg Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Nama Irian adalah satu nama yg mengandung arti politik.

Frans Kaisepo, pahlawan nasional Indonesia dari Papua, pernah mengatakan, “Perubahan nama Papua menjadi Irian, selain mempunyai arti historis, jg mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.” (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107 – 108).

“Pada awalnya, ini adalah upaya yg sia-sia,” kata Clarice Van den Hengel, seorang peneliti & ahli Indonesia yg tinggal di Den Haag, kepada RBTH.

“Awalnya, Amerika, yg telah membentuk NATO, mendukung Belanda, sedangkan Stalin tidak peduli dgn Indonesia yg berada jauh di khatulistiwa.”

Upaya Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dimulai dgn melakukan negosiasi bilateral langsung dgn Belanda.

Ketika langkah ini gagal, Indonesia kemudian mencoba untuk menggalang dukungan di Majelis Umum PBB.

Namun, hal ini pun terbukti sia-sia.

Pada tahun 1956, Presiden Sukarno, yg memiliki kecenderungan jiwa sosialis yg kuat, melakukan kunjungan pertamanya ke Moskow.

Di Moskow, sang presiden pertama RI membahas sengketa negaranya dgn Belanda, yg kemudian disebut sbg Sengketa Irian Barat.

Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev, yg mendukung gerakan antikolonialisme di Asia & Afrika, dgn cepat mengumumkan dukungannya terhadap Indonesia yg pada waktu itu tengah berupaya mendapatkan dukungan di PBB.

Moskow jg mulai mempersenjatai angkatan bersenjata Indonesia.

Dari akhir 1950-an hingga akhir masa kepemimpinan Sukarno pada 1966, Uni Soviet telah memasok Indonesia dgn satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, delapan kapal patroli antikapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal torpedo bermotor & kapal meriam, serta kendaraan-kendaraan lapis baja & amfibi, helikopter, & pesawat pengebom.

Aktivitas militer Indonesia terus meningkat di wilyah ini sampai pertengahan tahun 1962.

Angkatan Udara RI mulai beroperasi dari pangkalan di pulau-pulau sekitar Irian Barat & pesawat pengebom Tupolev Tu-16 yg dikirim Soviet lengkap dgn misil antikapal AS-1 Kennel / KS-1 Kome dikerahkan untuk mengantisipasi serangan HNLMS Karel Doorman.

“Situasi benar-benar berubah ketika Indonesia dipersenjatai oleh Soviet,” kata Van den Hengel.

“Belanda sudah kalah perang dgn rakyat Indonesia & tidak siap untuk berurusan dgn tentara Indonesia yg dilengkapi dgn senjata modern.”

Dengan dukungan persenjataan Soviet, Indonesia memulai kebijakan konfrontasi dgn Belanda pada tahun 1960.

Subandrio Bertemu Khrushchev

Konfrontasi antara Indonesia & Belanda melibatkan kombinasi tekanan diplomatik, politik, & ekonomi, serta kekuatan militer yg terbatas.

Tahap akhir konfrontasi memaksa invasi militer berskala penuh, suatu rencana berisiko yg akan memaksa Amerika untuk campur tangan & membantu sekutu NATO mereka.

Selama puncak konfrontasi, Subandrio, menteri luar negeri Sukarno yg fasih berbahasa Rusia, terbang ke Moskow untuk meminta dukungan Soviet.

Nikita Khrushchev menggambarkan peristiwa yg berujung pada konfrontasi ini dlm memoarnya.

“Saya bertanya kepada Subandrio, ‘Seberapa besar kemungkinan kesepakatan (dgn Belanda) bisa tercapai’,” tulis Khruschev.

“Dia menjawab, ‘Tidak terlalu besar.’ Saya bilang, ‘Jika Belanda tidak bisa bersikap rasional & memilih terlibat dlm operasi militer, ini akan menjadi perang yg, pada batas tertentu, bisa berfungsi sbg medan pembuktian bagi pilot-pilot kami yg menerbangkan pesawat tempur yg dilengkapi dgn rudal. Kita akan melihat bagaimana rudal kami bekerja’.”

Meskipun dukungan Moskow terhadap Indonesia sangat jelas & dinyatakan secara terbuka, pembicaraan antara Khrushchev & Subandrio ini seharusnya bersifat rahasia.

Namun, sang menlu, menurut memoar Khrushchev, mengungkapkan hasil pembicaraannya itu kepada Amerika, yg sama sekali tak ingin terjebak dlm krisis lain yg berpotensi menjadi Perang Dunia.

“Ini menjadi momen berakhirnya kekuasaan Belanda di Irian Barat,” kata Van den Hengel.

“Selain ingin menghindari konfrontasi langsung dgn Uni Soviet, AS tidak ingin terlihat bahwa negaranya tampak mendukung penjajah Eropa melawan negara dunia ketiga yg baru merdeka.”

Di bawah tekanan Amerika, pada Agustus 1962, Belanda akhirnya setuju untuk menyerahkan Irian Barat ke Otoritas PBB (UNTEA).

Pada 1963, wilayah Irian Barat akhirnya diserahkan kepada Indonesia.

Setelah referendum tahun 1969, atau yg dikenal sbg Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), rakyat Irian Barat dgn suara bulat memilih bergabung dgn Indonesia.

Meskipun dibantah oleh beberapa pengamat Barat, hasil referendum diterima oleh Amerika Serikat, Uni Soviet, Australia, serta 81 anggota PBB lainnya.

Namun, Belanda mengembangkan sekelompok orang yg hendak menentang penggabungan wilayah Papua dgn Indonesia.

Unsur-unsur ini kemudian membentuk gerakan separatis yg hingga kini masih aktif di Papua.

Baca juga Artikel - artikel menarik kami lainnya di :

Blogspot.com : Solid Gold on Blogspot.com
Wordpress.com : Solid Gold Berjangka on Wordpress.com
Weebly.com : PT Solid Gold Berjangka on Weebly.com
Blogdetik.com : Solid Gold on Blogdetik.com
Strikingly.com : Solid Gold Berjangka on Strikingly.com
Wixsite.com : PT Solid Gold Berjangka on Wixsite.com
Simplesite.com : Solid Gold Berjangka on Simplesite.com
Spruz.com : PT Solid Gold Berjangka on Spruz.com

(Prz - PT Solid Gold Berjangka)

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!